Jelang Idul Fitri 2026, Pengusaha Kue Kering di Probolinggo Rasakan Penurunan Order
PROBOLINGGO, iNewsProbolinggo.id - Beragam kue kering mulai diproduksi oleh pelaku usaha rumahan di Kota Probolinggo untuk memenuhi pesanan Lebaran. Salah satunya dilakukan oleh Diah Sri Hartati (46), pengusaha kue kering yang berlokasi di Jalan Hayam Wuruk.
Di tempat produksinya, Diah membuat berbagai jenis kue kering yang biasa disajikan saat Lebaran. Dari total 17 varian yang diproduksi, beberapa di antaranya menjadi favorit pelanggan, terutama nastar dan kastengel.
“Yang paling banyak dicari itu nastar banana, kemudian kastengel,” katanya.
Untuk varian nastar sendiri tersedia beberapa pilihan rasa, seperti nastar klepon, choco cheese, banana, classic, hingga nastar roll. Selain itu, tahun ini ia juga menghadirkan beberapa varian baru, di antaranya putri salju pandan, cracker cookies, serta thamrind red velvet.
Cracker cookies merupakan kue berbahan dasar cookies keju yang digiling halus lalu dicampur kembali ke dalam adonan. Sementara thamrind red velvet adalah kue kering yang dipadukan dengan crumble red velvet.
Di antara berbagai jenis kue tersebut, nastar banana menjadi salah satu yang paling rumit dalam proses pembuatannya. Kue ini dibentuk menyerupai buah pisang, kemudian dicelupkan ke dalam cokelat rasa banana dan dihias kembali pada bagian luarnya.
“Kalau nastar banana memang agak ribet karena harus dibentuk seperti pisang, lalu dicelup cokelat banana dan dilukis lagi,” ucapnya.
Proses pembuatan kue biasanya dimulai sejak pukul 07.00 hingga 15.00 WIB setiap hari. Dalam proses produksi, Diah dibantu sekitar 10 pekerja yang menangani berbagai tahapan mulai dari pembuatan adonan hingga pengemasan.
Selain dijual dalam bentuk toples satuan dengan harga sekitar Rp75 ribu hingga Rp85 ribu, Diah juga menyediakan paket hampers berisi tiga toples kue dengan harga sekitar Rp185 ribu.
Untuk hampers, kemasan menggunakan kotak persegi panjang, sedangkan penjualan satuan menggunakan toples berukuran lebih besar.
Sementara, pemesanan kue kering dibuka melalui sistem pre-order sejak 15 Januari atau sekitar satu bulan sebelum bulan Ramadan. Biasanya pemesanan ditutup pada hari ke-7 puasa, setelah itu ia hanya menyelesaikan pesanan yang sudah masuk.
Namun tahun ini, jumlah pesanan yang diterima mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Tahun lalu bisa sampai sekitar 1.500 toples, sekarang hanya sekitar 900-an,” ujarnya.
Penurunan pesanan tersebut juga berdampak pada jumlah tenaga kerja yang dilibatkan dalam produksi. Jika tahun lalu ia mempekerjakan sekitar 15 orang, tahun ini jumlahnya dikurangi menjadi 10 orang.
Diah mengatakan sebagian besar pembelinya merupakan pelanggan tetap yang biasanya langsung memesan tanpa perlu mencicipi produk terlebih dahulu.
“Kebanyakan sudah pelanggan lama, jadi tidak perlu tester lagi,” katanya.
Ia juga menyebut penurunan pesanan tidak hanya dirasakan oleh usahanya. Berdasarkan informasi dari penjual bahan kue, banyak pengusaha kue kering lainnya juga mengeluhkan hal yang sama.
“Penjual toko bahan kue juga bilang, pengusaha lainnya juga mengeluh ordernya turun,” jelasnya.
Editor : Arif Ardliyanto