Tinggal Dua Titik Api, BNPB Kejar Pemadaman Bromo hingga Jumat
Langkah tersebut dinilai penting karena pemerintah pusat juga tengah menangani bencana di sejumlah daerah lain. Sumber daya nasional tidak hanya dikerahkan untuk Bromo, tetapi harus dibagi untuk menghadapi kebakaran maupun bencana lainnya.
“Pemerintah pusat sekarang energinya tersebar ke banyak daerah. Bencana kebakaran bukan hanya terjadi di Bromo, tapi di tempat-tempat yang lain, di provinsi-provinsi yang lain.
Bahkan juga di sisi lain, ada juga masih ada bencana banjir,” jelas Pratikno.
Setelah Pratikno menyampaikan arah penanganan tersebut, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menjelaskan target teknis yang diberikan kepada tim di lapangan.
Suharyanto mengatakan dua titik api yang tersisa ditargetkan selesai dipadamkan pada Jumat.
“Target kami sudah sampaikan kepada Danrem, Sekda, kemudian Kalaksa BPBD baik provinsi maupun kabupaten/kota. Kita upayakan dua titik ini Jumat sudah selesai,” kata Suharyanto.
Jika target tersebut tercapai, sebagian kekuatan udara yang saat ini digunakan untuk pemadaman Bromo akan dialihkan ke wilayah lain yang membutuhkan bantuan.
“Artinya kita bisa geser bombing itu ya. Kan ada tiga bombing. Dua bombing kita geser ke tempat lain karena tempat lain juga membutuhkan untuk pemadaman kebakaran,” ujarnya.
Namun, Suharyanto mengatakan proses pemadaman masih menghadapi kendala medan yang cukup berat. Salah satu titik api berada di lokasi dengan kemiringan hingga sekitar 80 derajat sehingga tidak memungkinkan pasukan darat mencapai titik tersebut.
“Rekan-rekan media lihat itu apinya ada di ketinggian. Sudutnya sampai 80 derajat. Jadi pasukan darat kan tidak bisa naik sampai ke atas. Ini juga menyangkut keselamatan jiwa,” jelasnya.
Keterbatasan sumber air juga menjadi persoalan dalam operasi pemadaman.
“Yang kedua, sumber airnya tidak banyak. Jadi hanya yang bisa diambil di Ranu Regulo, Ranu Pane,” kata Suharyanto.
Selain medan dan sumber air, kondisi cuaca turut memengaruhi operasi. BNPB masih menunggu peluang terbentuknya awan hujan yang dapat dimanfaatkan untuk membantu pemadaman melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
“Penjelasan dari BMKG, ada potensi awan hujan tanggal 14 sampai 16 Agustus katanya, atau tanggal 18. Kalau memang betul-betul ada, nanti kita akan lakukan operasi modifikasi cuaca supaya datang hujan,” ujarnya.
Suharyanto menilai hujan akan membantu proses pemadaman, terutama di kawasan yang sulit dijangkau petugas.
“Kalau hujan, tentu saja lebih efektif dan lebih efisien,” katanya.
Dalam penanganan terbaru, BNPB mencatat luas lahan terdampak karhutla mencapai sekitar 889 hektare yang tersebar di Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Malang, dan Pasuruan.
Tim gabungan kini terus mengejar target Jumat sambil memastikan tidak muncul titik api baru. Jika dua titik tersebut berhasil dipadamkan, sebagian kekuatan yang sebelumnya terkonsentrasi di Bromo dapat digunakan untuk membantu penanganan kebakaran di daerah lain.
Editor : Arif Ardliyanto