Tinggal Dua Titik Api, BNPB Kejar Pemadaman Bromo hingga Jumat
PROBOLINGGO, iNewsProbolinggo.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus dikejar untuk segera dituntaskan. Dari puluhan titik api yang sebelumnya muncul, kini tersisa dua titik yang masih harus dipadamkan.
Menko PMK Pratikno mengatakan pemerintah pusat memberikan perhatian serius terhadap penanganan karhutla Bromo. Ia bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dan sejumlah pejabat daerah datang untuk melihat langsung kondisi terbaru sekaligus membahas langkah yang paling efektif.
“Jadi hari ini kami datang ke lokasi. Kita ingin mengecek lagi tentang kondisi yang terakhir. Ini memang masih ada dua titik api yang harus segera dipadamkan,” kata Pratikno saat meninjau kawasan Bromo, Senin (10/8/2026).
Menurut Pratikno, jumlah titik api telah jauh berkurang dibandingkan kondisi sebelumnya. Namun, dua titik yang tersisa tetap harus segera dikendalikan agar tidak memunculkan kebakaran baru.
“Yang sebelumnya sudah mencapai 34 titik api, sekarang masih ada dua titik api seperti yang bisa dilihat di belakang,” ujarnya.
Percepatan penanganan juga menjadi perhatian karena pemerintah pusat harus membagi sumber daya untuk menghadapi bencana di berbagai wilayah Indonesia.
“Jadi kita semuanya bekerja keras. Ini target waktunya secepat-cepatnya. Jadi kita sudah bahas strateginya seperti apa, cara apa yang paling efektif dan efisien,” kata Pratikno.
Ia menegaskan dukungan pemerintah pusat tetap diberikan, tetapi pemerintah daerah dan masyarakat juga perlu bergerak bersama dalam penanganan di lapangan.
“Dukungan dari pemerintah pusat tetap dipertahankan di sini, tetapi juga peran dari daerah. Terima kasih Pak Sekda, terima kasih Pak Danrem. Ini yang sudah bekerja keras luar biasa. Dukungan masyarakat menjadi penting,” tuturnya.
Pratikno mengatakan penanganan tidak boleh berhenti pada upaya memadamkan api yang masih terlihat. Tim juga perlu mencegah munculnya titik api baru.
“Jadi sekarang ini, selain memadamkan titik api yang tersisa dua ini, kita juga harus berusaha untuk mencegah munculnya titik api yang baru,” ujarnya.
Langkah tersebut dinilai penting karena pemerintah pusat juga tengah menangani bencana di sejumlah daerah lain. Sumber daya nasional tidak hanya dikerahkan untuk Bromo, tetapi harus dibagi untuk menghadapi kebakaran maupun bencana lainnya.
“Pemerintah pusat sekarang energinya tersebar ke banyak daerah. Bencana kebakaran bukan hanya terjadi di Bromo, tapi di tempat-tempat yang lain, di provinsi-provinsi yang lain.
Bahkan juga di sisi lain, ada juga masih ada bencana banjir,” jelas Pratikno.
Setelah Pratikno menyampaikan arah penanganan tersebut, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menjelaskan target teknis yang diberikan kepada tim di lapangan.
Suharyanto mengatakan dua titik api yang tersisa ditargetkan selesai dipadamkan pada Jumat.
“Target kami sudah sampaikan kepada Danrem, Sekda, kemudian Kalaksa BPBD baik provinsi maupun kabupaten/kota. Kita upayakan dua titik ini Jumat sudah selesai,” kata Suharyanto.
Jika target tersebut tercapai, sebagian kekuatan udara yang saat ini digunakan untuk pemadaman Bromo akan dialihkan ke wilayah lain yang membutuhkan bantuan.
“Artinya kita bisa geser bombing itu ya. Kan ada tiga bombing. Dua bombing kita geser ke tempat lain karena tempat lain juga membutuhkan untuk pemadaman kebakaran,” ujarnya.
Namun, Suharyanto mengatakan proses pemadaman masih menghadapi kendala medan yang cukup berat. Salah satu titik api berada di lokasi dengan kemiringan hingga sekitar 80 derajat sehingga tidak memungkinkan pasukan darat mencapai titik tersebut.
“Rekan-rekan media lihat itu apinya ada di ketinggian. Sudutnya sampai 80 derajat. Jadi pasukan darat kan tidak bisa naik sampai ke atas. Ini juga menyangkut keselamatan jiwa,” jelasnya.
Keterbatasan sumber air juga menjadi persoalan dalam operasi pemadaman.
“Yang kedua, sumber airnya tidak banyak. Jadi hanya yang bisa diambil di Ranu Regulo, Ranu Pane,” kata Suharyanto.
Selain medan dan sumber air, kondisi cuaca turut memengaruhi operasi. BNPB masih menunggu peluang terbentuknya awan hujan yang dapat dimanfaatkan untuk membantu pemadaman melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
“Penjelasan dari BMKG, ada potensi awan hujan tanggal 14 sampai 16 Agustus katanya, atau tanggal 18. Kalau memang betul-betul ada, nanti kita akan lakukan operasi modifikasi cuaca supaya datang hujan,” ujarnya.
Suharyanto menilai hujan akan membantu proses pemadaman, terutama di kawasan yang sulit dijangkau petugas.
“Kalau hujan, tentu saja lebih efektif dan lebih efisien,” katanya.
Dalam penanganan terbaru, BNPB mencatat luas lahan terdampak karhutla mencapai sekitar 889 hektare yang tersebar di Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Malang, dan Pasuruan.
Tim gabungan kini terus mengejar target Jumat sambil memastikan tidak muncul titik api baru. Jika dua titik tersebut berhasil dipadamkan, sebagian kekuatan yang sebelumnya terkonsentrasi di Bromo dapat digunakan untuk membantu penanganan kebakaran di daerah lain.
Editor : Arif Ardliyanto