Merawat Budaya Lewat Kadisah, Warga Krejengan Arak Gunungan Hasil Bumi sebagai Wujud Syukur
Kepala Desa Krejengan, Nurul Huda mengatakan, tradisi Kadisah rutin digelar setiap tahun sebagai ungkapan syukur masyarakat sekaligus memperingati Tahun Baru Islam.
"Antusiasme masyarakat setiap tahunnya terus meningkat. Berkat kekompakan warga, agenda tahunan ini dapat berjalan dengan baik dan sukses," ujarnya.
Menurutnya, gunungan yang diarak merupakan simbol hasil kerja keras masyarakat. Sebagian besar isinya berasal dari hasil pertanian warga, sementara sebagian lainnya ditambahkan untuk mempercantik bentuk gunungan."Gunungan yang dibawa masyarakat sebagian merupakan hasil bumi sendiri dan sebagian dari luar agar menambah estetika gunungan tersebut," tambahnya.
Perayaan Kadisah tahun ini juga dihadiri Bupati Probolinggo, Gus Haris. Ia mengaku bangga karena tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Krejengan itu tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.
"Saya sangat bangga. Selain menjadi tradisi, kegiatan ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat," katanya.
Kadisah di Desa Krejengan digelar selama tiga hari dengan berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari kerja bakti, khatmil Al-Qur'an, ziarah bujuk atau makam leluhur, kirab judang dan gunungan, hingga ditutup dengan pengajian umum.
Di tengah arus modernisasi, masyarakat Krejengan memilih menjaga warisan budaya yang telah hidup sejak lama. Bagi mereka, Kadisah bukan hanya tentang sebuah perayaan, melainkan cara merawat kebersamaan, menghormati leluhur, dan mengenalkan nilai-nilai gotong royong kepada generasi penerus agar tradisi itu tetap hidup di masa mendatang.
Editor: Arif Ardliyanto