Pintu Air Tidak Berfungsi, Banjir di Leces Probolinggo Masuk Hari Ketiga
PROBOLINGGO, iNewsProbolinggo.id - Banjir yang merendam Desa Sumber Kedawung, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, belum juga tuntas hingga hari ketiga, Kamis (05/03/2026).
Diketahui, genangan yang sebelumnya sempat surut kembali muncul setelah hujan turun, terutama di kawasan sekitar Pasar Leces.
Selain merendam rumah warga, genangan juga berdampak pada kegiatan belajar mengajar. Dua sekolah di wilayah tersebut yakni SD SumberKedawung 5 dan SMP 1 Leces terpaksa diliburkan selama dua hari karena lingkungan sekolah masih tergenang air.
Persoalan banjir kali ini dinilai bukan semata akibat curah hujan, melainkan juga karena sistem drainase yang belum optimal. Utamanya pada pintu air diketahui tidak berfungsi dengan baik.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief mengatakan, bahwa pihaknya telah melakukan asesmen awal sambil mendata dampak banjir.
“Hari ini kami menggunakan enam pompa untuk menyedot air dan mengalirkannya ke tempat lain,” katanya.
Saat ini, penanganan jangka pendek difokuskan pada penyurutan genangan, dan hasil asesmen akan dikoordinasikan dengan Perkim dan Dinas PUPR untuk penanganan lebih lanjut.
"Tata kelola drainase di lingkungan tersebut memang perlu pembenahan," ucapnya.
Hal senada juga disampaikan Camat Leces Muhammad Sigit Pujotomo. Ia menjelaskan bahwa aliran air di wilayah tersebut merupakan rangkaian dari beberapa kawasan hulu.
“Kalau aliran dari Sumber Kola cepat keluar ke Permai, lalu ke Koma Indah dan terus ke sini, air akan segera surut. Tapi kalau ada satu titik saja yang mampet, air akan menjadi tumpuan dan menggenang,” jelasnya.
Hal itu itu mendapat respon dari Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo Arif Hidayat. Pria yang duduk di Komisi IV itu menyoroti kondisi pintu air di belakang Pasar Leces yang disebut tidak berfungsi optimal.
Pintu air tersebut dipenuhi sedimen dan sampah sehingga tidak mampu mengalirkan air dengan baik. Dan normalisasi saluran air tidak bisa dilakukan dengan alat berat karena akses yang sempit di belakang pasar, diapit bangunan toko dan rumah warga.
“Kita harus duduk bersama, desa, kecamatan, pengelola pasar, termasuk pemilik bangunan yang menutup saluran air. Kalau tidak ada koordinasi lintas pihak, setiap hujan turun banjir akan terus berulang,” paparnya Arif.
Di sisi lain, warga masih harus bertahan dengan genangan yang belum sepenuhnya surut. Fitri, salah satu warga terdampak, mengaku aktivitas keluarganya menjadi terbatas karena air masuk hingga ke dalam rumah dan membuat perabot basah.
“Daerah sini memang rawan banjir. Mama saya lebaran bukan beli baju, tapi beli sepatu boots,” ujarnya.
Ia juga sempat mengunggah video kondisi rumahnya yang tergenang ke media sosial. Tak lama setelah video tersebut beredar, tim BPBD datang ke lokasi untuk melakukan pengecekan dan asesmen.
Hingga hari ketiga, genangan masih terlihat di sejumlah titik sekitar pasar dan permukiman. Penanganan darurat terus dilakukan, sementara solusi jangka panjang terkait normalisasi drainase dan fungsi pintu air masih menunggu pembahasan lanjutan.
Editor : Arif Ardliyanto