PROBOLINGGO, iNewsProbolinggo.id - Kesibukan mengajar dan menjalankan berbagai aktivitas akademik kerap membuat olahraga menjadi hal yang terpinggirkan. Namun, sejumlah dosen dan tenaga pendidik mencoba meluangkan waktu untuk menjaga kebugaran tubuh melalui program fat loss and strength conditioning.
Program tersebut menjadi bagian dari kegiatan mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) dalam program Belajar Bersama Masyarakat (BBM) Tematik Performance Lab. Selama satu bulan, mahasiswa ikut mendampingi dosen dan tenaga pendidik dalam menjalani rangkaian latihan kebugaran.
Bagi para peserta, mengikuti latihan secara rutin di tengah kesibukan bukan perkara mudah. Mereka harus mengatur waktu antara pekerjaan, aktivitas akademik, dan latihan yang telah dijadwalkan.
Namun, proses tersebut menjadi pengalaman tersendiri. Peserta tidak hanya diajak berolahraga, tetapi juga belajar memahami kondisi tubuh dan pentingnya menjaga pola hidup sehat secara berkelanjutan.
Salah satu anggota tim UM BBM Tematik Performance Lab Adriano aura arjuna mengatakan, rangkaian kegiatan diawali dengan seminar yang memberikan pemahaman mengenai konsep fat loss dan strength conditioning.
"Program ini diawali dengan seminar mengenai fat loss and strength conditioning. Peserta juga mendapatkan materi tentang penggunaan alat Tanita dan gizi sebelum menjalani rangkaian latihan," ujarnya.
Usai mendapatkan materi, peserta menjalani pemeriksaan menggunakan alat Tanita. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi dan komposisi tubuh masing-masing peserta sebelum mengikuti latihan.
Hasil pemeriksaan kemudian menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun latihan. Peserta juga menjalani tes one repetition maximum (1RM) untuk mengetahui kemampuan maksimal dalam mengangkat beban.
Data tersebut digunakan sebagai acuan untuk menentukan beban latihan sesuai kemampuan fisik masing-masing peserta. Dengan begitu, peserta tidak sekadar mengikuti latihan, tetapi juga belajar memahami batas kemampuan tubuhnya.
Juna menambahkan, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk mendorong kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan dan kualitas hidup.
"Tujuan dari program tersebut tidak lain yakni agar kehidupan sehat dan sejahtera serta pendidikan berkualitas, seperti yang ada di tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs," tambahnya.
Selama latihan, mahasiswa yang tergabung dalam UM BBM Tematik Performance Lab ikut berada di sisi peserta. Mereka membantu mengarahkan gerakan, memberikan koreksi ketika ada teknik yang kurang tepat, sekaligus memperhatikan pelaksanaan latihan agar berjalan dengan aman.
Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang berbeda. Mereka tidak hanya belajar dari teori yang diperoleh selama perkuliahan, tetapi juga berhadapan langsung dengan peserta yang memiliki usia, kondisi fisik, dan kemampuan berbeda.
Dalam sepekan, latihan dilakukan sebanyak tiga kali. Dua sesi digelar di pusat kebugaran, sedangkan satu sesi lainnya diisi dengan senam Tabata.
Rutinitas itu menjadi tantangan tersendiri. Kesibukan mengajar dan aktivitas akademik membuat para peserta harus pandai mengatur waktu agar tetap bisa hadir dan mengikuti latihan secara konsisten.
Setelah satu bulan menjalani rangkaian kegiatan, peserta kembali menjalani pemeriksaan Tanita. Pemeriksaan akhir tersebut dilakukan untuk melihat perubahan kondisi dan komposisi tubuh setelah mengikuti program latihan.
Hasil pemeriksaan sebelum dan sesudah program kemudian dapat dibandingkan untuk melihat perkembangan yang terjadi. Data tersebut juga dapat menjadi bahan evaluasi dalam memantau kondisi kebugaran peserta.
Namun, perubahan yang dirasakan tidak hanya berkaitan dengan angka hasil pemeriksaan. Bagi peserta, rangkaian latihan menjadi kesempatan untuk kembali memperhatikan tubuh yang selama ini kerap terabaikan karena kesibukan.
Mereka belajar bahwa menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan berolahraga sesekali. Ada pola makan, kebiasaan sehari-hari, dan konsistensi yang harus berjalan beriringan.
Di sisi lain, mahasiswa juga mendapat pengalaman berharga dari proses pendampingan tersebut. Mereka belajar berkomunikasi dengan peserta, memahami perbedaan kemampuan fisik, hingga memastikan setiap latihan dilakukan dengan teknik yang benar.
Pada akhirnya, kegiatan tersebut menghadirkan cerita sederhana tentang bagaimana kesibukan tidak selalu menjadi alasan untuk mengabaikan kesehatan.
Di tengah rutinitas mengajar dan pekerjaan akademik, para dosen dan tenaga pendidik berusaha menyisihkan waktu untuk bergerak dan menjaga kebugaran. Sementara bagi mahasiswa, proses mendampingi selama satu bulan menjadi pengalaman untuk belajar langsung sekaligus melihat bahwa menjaga kesehatan membutuhkan kemauan dan konsistensi.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
