PROBOLINGGO, iNewsProbolinggo.id - Tidak banyak yang mengetahui bahwa beberapa tahun lalu warga Desa Tlogosari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, harus berjuang hanya untuk mendapatkan akses internet. Sebagai desa yang berada di kawasan pegunungan, sinyal telepon dan jaringan data bukanlah sesuatu yang mudah dijangkau.
Bagi para pelajar, kondisi tersebut sering menjadi kendala saat mengerjakan tugas sekolah. Sebagian warga bahkan harus berpindah tempat atau mencari titik tertentu agar bisa terhubung dengan jaringan internet. Sementara pelaku usaha kecil kesulitan memanfaatkan teknologi untuk memasarkan produknya.
Keterbatasan itu kemudian menggugah sejumlah pemuda desa untuk mencari solusi. Bersama pemerintah desa, mereka mencoba menghadirkan akses internet yang lebih mudah dijangkau oleh masyarakat melalui pengelolaan layanan WiFi berbasis Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Perjuangan itu kini mulai membuahkan hasil. Sedikit demi sedikit, warga yang sebelumnya kesulitan mendapatkan akses internet mulai menikmati layanan yang tersedia langsung di lingkungan tempat tinggal mereka.
Kepala Desa Tlogosari, Muhammad Taufik, mengatakan program tersebut lahir dari semangat pemerintah desa dan para pemuda yang ingin menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Ini merupakan inisiatif pemerintah desa bersama beberapa pemuda untuk bergerak di bidang layanan WiFi. Selain membantu perekonomian para pemuda, WiFi yang dikelola BUMDes ini juga diharapkan dapat menghasilkan pendapatan asli desa,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan layanan internet tersebut tidak hanya memberikan kemudahan bagi warga, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi generasi muda desa.
Saat ini, layanan WiFi yang dikelola BUMDes telah digunakan oleh perangkat desa, kader, dan puluhan warga yang tersebar di beberapa wilayah desa.
“Per hari ini pengguna WiFi yang dikelola BUMDes meliputi perangkat desa, kader, dan beberapa masyarakat. Kurang lebih sudah ada sekitar 70 warga yang terpasang, dan target kami seluruh warga Tlogosari dapat menggunakan layanan ini,” katanya.
Bagi warga, internet kini menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak lebih mudah mengakses materi pembelajaran, masyarakat dapat berkomunikasi dengan keluarga tanpa kendala, dan pelaku usaha mulai mengenal pemasaran digital untuk memperluas jangkauan penjualan.
Di balik jaringan internet yang kini terpasang di rumah-rumah warga, tersimpan kisah tentang semangat anak muda desa yang tidak ingin kampung halamannya tertinggal oleh perkembangan zaman.
Taufik berharap program tersebut terus berkembang sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Selain membantu kebutuhan komunikasi dan pendidikan, keberadaan layanan WiFi desa juga diharapkan menjadi sumber pendapatan baru yang dapat mendukung pembangunan desa di masa mendatang.
Sementara itu, perkembangan program yang dikelola BUMDes tersebut juga mendapat perhatian dari pemerintah kecamatan. Pada Senin (8/6/2026), layanan WiFi desa bersama program pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) turut menjadi bagian dari kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) yang dilakukan tim Kecamatan Tiris.
Bagi warga Tlogosari, perubahan yang terjadi mungkin berawal dari jaringan internet. Namun lebih dari itu, hadirnya layanan tersebut menjadi simbol bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk maju. Dari sebuah desa di lereng pegunungan, harapan tentang akses informasi, pendidikan, dan peluang ekonomi kini terasa semakin dekat.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
